Rano Karno Janji Siap Dengarkan Suara Nelayan Terdampak Tanggul Beton di Cilincing
Laporan Dumai – Rano Karno Janji sejumlah nelayan mengeluhkan bahwa tanggul beton sepanjang 2-3 kilometer telah mengganggu akses mereka keluar masuk muara dan menambah jarak pelayaran.
Kendati belum ada jadwal pasti, Rano Karno mengatakan bahwa ia akan memfasilitasi pertemuan antara pihak pemerintah, perusahaan pelaksana (PT Karya Citra Nusantara / KCN), serta nelayan agar persoalan akses dan kompensasi dapat diselesaikan secara adil.
Nelayan setempat menyambut baik janji tersebut, berharap suara mereka didengar dan dampak ekonomi dari pekerjaan tanggul beton bisa diminimalisir.
Janji Bertemu Nelayan: Tes Konsistensi Kepemimpinan di Tengah Kontroversi Tanggul Beton
Wakil Gubernur Rano Karno menghadapi ujian kepercayaan publik dalam menangani polemik tanggul beton Cilincing. Nelayan telah menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur ini memberi beban ekonomi tambahan—waktu melaut lebih lama, pengeluaran bahan bakar meningkat, serta hasil tangkapan yang menurun.
Janji Rano Karno menemui nelayan bukan sekadar gesture politik, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar responsif terhadap warga yang paling terdampak. dan solusi yang konkret seperti kompensasi atau akses nelayan dijamin. Tanpa langkah nyata, janji bisa jadi hanya catatan di media, bukan perubahan nyata.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5011244/original/067042600_1731973383-anies_2.jpg)
Baca Juga: Datangi Polda Metro Eko Patrio Minta Pelaku Penjarahan Rumahnya Dibebaskan
Suara Nelayan Cilincing Menunggu Harapan di Balik Tanggul Beton
Hari-hari mereka tak lagi sama. Jalan melaut mereka harus memutar, ongkos melaut bertambah, dan hasil tangkapan semakin tipis. “Dulu bisa pulang penuh ikan, sekarang kadang pulang bengong,” kata seorang nelayan.
Saat berita bahwa Rano Karno akan menemui mereka terdengar, ada secercah optimisme. Mereka berharap, dalam pertemuan nanti, ada akta kesepakatan: pemangkasan biaya, kompensasi materiil, dan jaminan bahwa akses jalur keluar masuk laut tetap terbuka.
Wanita nelayan juga berharap agar anak-anak mereka bisa kembali melihat ayah mereka pulang dengan tangkapan yang cukup. Karena lebih dari sekadar pekerjaan, melaut adalah warisan dalam keluarga mereka, identitas dan martabat yang kini berjalan di ujung ketidakpastian.
Memfasilitasi Pertemuan dengan Nelayan Cilincing atas Tanggul Beton
Tujuannya untuk mendengarkan keluhan nelayan mengenai kendala akses laut, biaya operasional yang meningkat, dan potensi penurunan hasil tangkapan.
Rano Karno menyebut bahwa pemerintah akan mengkaji solusi seperti jalur alternatif untuk kapal nelayan, kompensasi yang layak, dan pengaturan ulang lokasi bagan nelayan agar tidak berada di jalur lalu lintas kapal besar. Komitmen ini muncul setelah berbagai laporan dan aspirasi nelayan yang merasa kegiatan usaha mereka terganggu.
Mengapa untuk Bertemu Nelayan Cilincing Penting untuk Demokrasi Lokal
Ketika pejabat publik seperti Rano Karno menyatakan akan menemui nelayan terdampak proyek tanggul beton, itu bukan sekadar aktivitas liputan. Itu bagian dari proses demokrasi di mana warga terkena dampak dapat menyuarakan masalahnya langsung.
Penting bagi masyarakat untuk mencatat janji tersebut, mendorong agar pertemuan berjalan terbuka, publik, dan melibatkan semua pihak—termasuk akademisi, ahli lingkungan, dan perwakilan nelayan.
Dokumentasi, tanya jawab, dan publikasi hasil pertemuan penting agar janji tidak hilang begitu saja. Ini dapat menjadi pola bagaimana pemerintah merespons keluhan warga pesisir, bukan hanya Cilincing tapi di mana saja.





